Home » , » Tata Cara Melaksanakan Shalat Hajat dan Tahajud bagian pertama

Tata Cara Melaksanakan Shalat Hajat dan Tahajud bagian pertama

Posted by Lentera Hati Manusia adalah Qolbu on Senin, 11 Juli 2011

SHALAT HAJAT DAN TAHAJUD
Fikih Keseharian seri ke-42

Oleh KH. A. Mustofa Bisri


Tanya:

Ingin tanya sedikit, Pak Mus.

Orang yang akan mengerjakan salat hajat apakah harus tidur terlebih dahulu? Bolehkah dikerjakan setelah jam 24.00 meskipun tidak tidur sebelumnya?


Jika misalnya, ada orang yang tidak tidur sampai Subuh, apakah tidak boleh mengerjakan salat hajat tersebut?


Dalam salat hajat itu apakah permohonan disampaikan seperti qunut, pada waktu sujud akhir, atau kapan?


Dalam salat itu, bolehkah kita menyampaikan beberapa permohonan, ataukah hanya boleh satu permohonan saja?


Demikian pertanyaan-pertanyaan saya, terima kasih atas penjelasan Pak Mus.


Esty AM

Semarang Selatan


Jawab:

Mbak Esty, saya sering menerima pertanyaan seperti yang Anda ajukan ini. Memang banyak orang yang merancukan antara salat hajat dan salat tahajud.


Yang dikerjakan malam hari sehabis bangun dari tidur adalah salat tahajud. Seperti diketahui kata tahajud itu sendiri berasal dari kata hujud yang berarti tidur. Tahajud artinya salat setelah bangun tidur. Allah berfirman:


"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai tambahan bagimu..." (QS 17. Al-Israa: 79)


Selain tahajud, memang masih banyak salat yang disunnahkan pada waktu malam hari; seperti tarawih di bulan Ramadan, Witir, dan lain sebagainya. Dalam hadis Rasulullah Saw. sendiri meriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa salat yang paling afdhol sesudah salat fardu, adalah salat malam:


"Rasulullah Saw. telah ditanya: 'Salat apa yang lebih utama sesudah salat fardu?' Nabi menjawab: 'Salat di tengah malam...'" (HR Muslim)


Konon memang pada waktu tengah malam saat yang paling baik untuk bermunajat kepada Allah.


Sedangkan salat hajat, sesuai dengan namanya, adalah salat untuk memohon kepada Allah sehubungan dengan adanya hajat atau keperluan. Rasulullah Saw. sendiri pernah bersabda:


"Barangsiapa mempunyai sesuatu hajat (keperluan) pada Allah atau kepada seseorang manusia, maka hendaklah ia berwudlu dengan baik, lalu salat dua rakaat, kemudian memuji Allah dan bersalawat kepada Nabi, lalu membaca:


"Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyabar lagi Maha Pemurah. Maha suci Allah Penguasa singgasana yang agung, segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta; aku memohon kepastian rahmat-Mu dan ketentuan maghfirah-Mu, serta anugerah dari segala yang baik, jangan biarkan suatu dosa pun padaku kecuali Engkau ampunkan dan tidak sesuatu kesumpekan pun kecuali Engkau kuakkan serta tidak sesuatu keperluan pun kecuali Engkau penuhi, Wahai Yang Paling Mengasihi." (HR at-Turmudzi dan Ibnu Majah dari Abdullah Ibn Ubay r.a.)


Hadis di atas tidak menyebut-nyebut waktunya salat, pokoknya punya hajat. Tapi mungkin karena kemuliaan salat di waktu malam hari, lagi pula waktu malam 'kan lebih tenang sesuai dengan kekhusyukan, maka umumnya orang melakukan salat hajat itu pun di waktu malam hari.


Dan dari hadis itu pula, dapat disimpulkan bahwa permohonan kita kepada Allah disampaikan sesudah salat; bukan di dalam salat. Tidak pada waktu qunut ataupun sujud.


Dari uraian di atas, mungkin tinggal pertanyaan Anda yang terakhir yang belum dengan sendirinya terjawab. Memang, di hadisnya, disebutkan haajatan yang artinya sesuatu hajat atau keperluan. Biasanya memang diartikan sesuatu keperluan besar atau penting, misalnya ingin dapat jodoh, ingin dapat rezeki banyak untuk membayar hutang, dan sebagainya. Tapi Allah Maha Kaya 'kan? Jadi, misalnya keperluan Anda banyak, ingin ini ingin itu sekaligus, ya sampaikan saja semuanya. Insya Allah dikabulkan oleh-Nya.

Wallaahu A'lam.


0 comments:

Poskan Komentar

.comment-content a {display: none;}