Seri ke-15 Fiqih Keseharian
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
Tanya:
Pak Mus, saya ingin ikut mengajukan pertanyaan, mohon dijawab dengan jelas:
- Apakah sebenarnya zikir itu? Sebab ada yang mengatakan zikir itu ialah "mengingat Allah", ada juga yang mengatakan "menyebut-nyebut Allah"; mana yang benar.
- Ada banyak orang yang pandai (mengerti) tentang agama tapi banyak berbuat dosa (maksiat), ada lagi orang yang bodoh (tidak begitu mengerti) tentang agama tapi rajin dan tekun beribadah; manakah di antara keduanya yang lebih baik?
Atas jawabannya, saya haturkan terima kasih
A. Syakur
Magelang
Jawab:
- Menurut kamus (Arab), zikir berasal dari lafal zakara - yadzkuru - dzikr, bisa berarti: mensucikan dan memuji (Allah); ingat, mengingat, peringatan; menutur; menyebut; dan melafalkan. Di dalam Al-Quran --yang juga disebut Adz-Dzikr-- kita dapat menjumpai lafal itu, di dalam berbagai bentuknya (masdar, fi'il madhi, amar, mudhari', dan sebagainya) lebih dari 200 kali dengan berbagai maknanya termasuk makna istilahi seperti dalam pembicaraan kita sekarang ini.
Jadi menilik asal maknanya, zikir itu memang bisa berarti "mengingat Allah". Karena itu, menurut ulama, zikir bisa dilakukan dengan hati ("mengingat"), bisa pula dengan lisan ("menyebut-nyebut").
Di surah 3. Ali-Imran 191 antara lain Allah berfirman:
"Mereka yang mengingat Allah diwaktu beridir, duduk dan berbaring..."
Di surah 4. An-Nisaa: 103, antara lain Allah berfirman:
"Maka apabila kam telah menyelesaikan salat, ingatlah di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring...."
Di dalam hadis shahih riwayat at-Turmudzi dari shahabat Abdullah bin Busr r.a. katanya:
"Ya rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah aku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan. Rasulullah Saw. pun menjawab: 'Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah.'"
Hadis lain juga riwayat at-Turmudzi dari shahabat Jabir r.a. dia berkata:
"Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 'Zikr yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah"
Namun demikian zikir yang afdhol adalah zikir yang dilakukan sekaligus dengan lisan dan hati. Misalnya lisan menyebut "Laa ilaaha illallaah" dan hati mengesakan-Nya. Lisan menyebut "Subhaanallaah", hati mensucikan-Nya. Dan seterusnya. Banyak berzikir kepada Allah, yang sering dipuji dan diperintahkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya (seperti
-di surah 8. Al-Anfaal: 45
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
-di surah 33. Al-Ahzab 35:
"...orang laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar."
-di surah 62. Al-Jumu'ah 10:
"Apabila telah kamu tunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.")
dengan demikian, adalah banyak "menyebut-nyebut" dan sekaligus "mengingat" Allah.
Karena itu, Imam 'Athaa, seorang faqih dan ahli hadis, mengatakan, orang yang melaksanakan salat lima waktu secara benar sudah termasuk ke dalam firman Allah yang memuji:
"Wadzdzaakiriinallaaha katsiira wadzdzaakiraati.."
"Orang laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir".
Bahkan beliau juga menyatakan bahwa majelis-majelis yang membicarakan halal-haram, seperti bagaimana seharusnya melakukan jual-beli, salat, puasa, nikah-cerai, haji, dan sebagainya adalah majelis-majelis zikir. Saiid bin Jabir r.a. dan ulama lainnya malah menyatakan bahwa keutamaan zikir tidak terbatas pada membaca tasbih (mensucikan Allah), tahlil (mengesakan Allah), tahmid (memuji Allah), takbir(mengagungkan Allah), dan sebagainya. Tapi siapa pun yang yang melakukan amal perbuatan karena Allah dengan ketaatan kepada-Nya, dia adalah orang yang berzikir. (Lebih lanjut bacalah "Hilyat al-Abraar wa Syi'aar al-Akhyaar" halaman 4-8).
javascript:void(0) - Kedua-duanya tidak baik. Tapi ditinjau dari segi kemasyarakatan, yang pertama (yang pandai ilmu agama tapi banyak berbuat dosa) masih bisa dimanfaatkan ilmunya. Sedangkan yang kedua ibadahnya belum tentu bermanfaat bagi dirinya sendiri, karena tanpa ilmu; apalagi bagi orang lain.
Walaahu A'lam

0 comments:
Posting Komentar