
Gelombang nafs itu tidak perlu kita hantarkan dengan emosional. Kita cukup hanya menengadah rileks, dan gelombang itu akan bergerak dengan sendirinya menuju ujung getaran yang tiada ujung.
Lalu dengan santun, panggillah yang tiada ujung itu dengan menyebut Allah...
Cuma sayang tidak banyak orang yang menggunakan saat saat yang sangat sempurna itu, yaitu saat tengah hari, sesaat sebelum berbuka, atau saat muncul nafsu seks kita.
Saat itulah waktu yang tepat untuk mengantarkan nafs kita untuk kembali menjadi ar ruh. Yang paling sempurna adalah ketika beduk atau azan mahgrib berkumandang, ketika kita sudah boleh makan dan minum. Makanan dan minuman itu terasa begitu kuat menarik diri kita untuk segera melahapnya.
Kalaulah saat itu kita bisa menahan tarikan makanan dan minuman itu untuk beberapa detik atau menit saja, maka saat itu kita seperti benar-benar terlepas, copot dari tarikan dahsyat makanan dan minuman itu.
Saat itulah salah satu waktu dimana kita sangat dekat dengan Allah. Itulah sebabnya saat itu disebutkan nabi sebagai waktu yang makbul untuk berdoa.
Karena waktu itu sang nafs yang sudah bermetamorfosis menjadi ar ruh begitu dekatnya dengan Allah.
Maka sebelum menyantap makanan dan minuman buka puasa itu, kita doakan tubuh kita, anak kita, istri atau suami kita, ibu bapa kita, seluruh muslimin dan muslimat. Lalu dengan mengucapkan Bismillahi allahu akbar dan doa berbuka yang lainnya, baru kita santap hidangan yang sudah tersedia.
Tapi lihatlah saat bersantap itupun makanan dan minuman itu seperti menarik nafs kita untuk makan dan minum sepuas-puasnya.
Nah saat itulah kesempatan lagi buat kita untuk mengajak nafs kita agar berbuka sekedarnya dulu, shalat dulu, setelah semua itu baru kita makan. Dan percaya atau tidak saat itu kita hanya ingin makan dan minum sekedarnya saja. Saat itu nafs kita seperti lepas dari tarikan makanan, minuman yang selama ini begitu kuat menguasai kita.
20 hari pertama puasa kalau kita ikuti dengan seperti itu, ditambah dengan shalat, sedekah, amalan amalan sunnah lainnya, maka dalam salah satu malam di akhir ramadhan, sang nafs sudah bermetamorphosis menjadi semurni murninya ar ruh.
bersambung ke Hakikat Puasa 3

0 comments:
Posting Komentar