Home » » Alasan Najis atau Demi Kesehatan

Alasan Najis atau Demi Kesehatan

Posted by Lentera Hati Manusia adalah Qolbu on Kamis, 15 Desember 2011

shalat sempurna, shalat nabi, sholat nabi, shalat berjamaah, sholat berjamaah, shalat khusyu, sholat khusyu, tentang shalat, tentang sholat, bacaan shalat, bacaan sholat 

Oleh KH. A. Mustofa Bisri
Seri ke-58

Saudara Udin dari Susukan suratnya sangat panjang dan saya mengalami kesulitan bila harus mengedit-ringkasnya. Karena itu dengan menyampaikan salam dan minta maaf kepadanya, saya akan langsung menanggapi masalah-masalah yang diajukannya saja.

Sudah sering --bahkan sangat sering-- saya katakan dalam rubrik ini, bahwa agama Islam itu menghendaki kemudahan dan bukan kesulitan bagi pemeluk-pemeluknya. Dalil untuk ini, baik dari Al-Quran maupun Assunnah tidak sedikit, jadi kalau ada yang terkesan sulit dan berat, sebenarnya itu kita sendiri yang mempersulit dan memperberatnya.

Boleh jadi orientasi kita yan berlebihan kepada fikih ikut menampilkan kesan sulit dan berat itu. Orientasi dan perhatian yang berlebihan ini tidak jarang, di samping menimbulkan anggapan sulit dab beratnya agama, membuat ruh atau jiwa aturan dan ajarannya sendiri jadi terlupakan, juga menjadikan lupa terhadap hal-hal yang lebih penting lainnya. Contohnya, perhatian kita terhadap najis misalnya, menurut pengalaman saya sudah keterlaluan. Lihatlah polemik yang begitu ramai tentang "najis anjing" di media ini. Dibasuh 7 kali atau cukup sekali, pakai campuran atau tidak, campurannya debuh atau sabun... (Polemik yang sebenarnya hanya melanjutkan belaka polemik yang sudah terjadi beberapa abad yang lalu).

Begitu sibuk dan asyiknya kita membicarakannya seolah-olah itulah satu-satunya masalah yang harus dipecahkan kalau kita ingin masuk sorga. Kita lalu lupa untuk apa sih kita membicarakannya. Sementara itu, anjing dan najis anjing yang ada dalam diri kita, keserakahan, kedengkian, kesombongan, merasa benar sendiri dan lain sebagainya, terluput dari perhatian dan sedikit sekali mendapat perhatian kita. Belum lagi masalah-masalah lain di sekeliling kita, meski untuk sekedar membicarakannya.

Kita membicarakan hukumnya najis dan lain sebagainya, termasuk dan khususnya dalam media ini, utamanya adalah untuk pengamalan demi mencari ridla Allah. Kepentingan lain, seperti untuk memperluas wawasan, boleh-boleh saja asal tetap dijaga jangan sampai terkesan njerok-njerokke apalagi sampai melupakan kepentingan utamanya itu.

Nah dengan semangat untuk tidak njerok-njerokke itu, sekarang masalah-masalah Saudara Udin akan saya jawab:

Jika Anda sekeluarga memang ingin berhati-hati dan sekaligus tidak ingin repot (masak setiap ada tamu yang masuk ruang tamu itu harus dipel), tulis saja: "Lantai suci, alas kaki harus dicopot." Tapi masalahnya apakah alas kaki itu mesti najis? Kalau najis, apakah tidak termasuk ma'fu (lihat di bawah judul "Tahi cecak dan cat kuku" saya sudah pernah berbicara tentang najis, yang ma'fu atau dimaaf, atau kalau ingin lebih luas silakan baca kitab-kitab fikih seperti Tanwiir al-Qulub hal 102-104 atau Kitab al-Fiqhu 'alaa Madzaahib al-Arba'ah jilid I hal 15-20).
Menurut saya, alas kaki tidak selalu najis. Dan jika tidak jelas alas kaki itu bernajis atau jelas bernajis tapi termasuk najis yang di ma'fu (seperti yang Anda gambarkan kemungkinan lewat sela-sela jepitan sandal jepit itu), menurut saya tidak ada alasan --kecuali demi kebersihan-- untuk senantiasa mengepel ruang tamu Anda.
Meskipun Anda bermadzhab Syafi'i, kenapa kalau mencuci pakaian harus disiram satu per satu? Yang saya tahu, menurut madzhab Syafi'i prinsipnya: airlah yang "mendatangi" pakaian yang akan dicuci bukan sebaliknya, pakaian yang "mendatangi" air. Pakaian akan dicuci satu persatu atau sakumbrek sekaligus tidak soal. Jadi Anda, misalnya, bisa memasukkan pakaian-pakaian yang akan Anda cuci ke ember, lalu tuangkanlah air ke dalamnya. Bukan ember Anda penuhi dengan air, baru kemudian pakaian-pakaian Anda celupkan ke dalamnya.
Adapun mbilasi (membasuh ulang) satu persatu, seperti yang dilakukan kebanyakan ibu-ibu kita, saya rasa itu demi kebersihan pakaian.
Soal najis anjing, saya yakin Anda sudah banyak memperoleh jawaban dari rubrik ini.


Wallaahu A'lam


0 comments:

Posting Komentar

.comment-content a {display: none;}