Home » » BERTOBAT DENGAN ZIKIR DAN DOSA BESAR SYIRIK

BERTOBAT DENGAN ZIKIR DAN DOSA BESAR SYIRIK

Posted by Lentera Hati Manusia adalah Qolbu on Minggu, 01 Mei 2011


BERTOBAT DENGAN ZIKIR DAN DOSA BESAR SYIRIK

Seri ke-13  Fiqih Keseharian
Oleh KH. A. Mustofa Bisri
Tanya:
Saya mohon dengan hormat untuk bisa memperoleh penjelasan sebagai berikut:
Bila kita ingin bertobat, apakah dengan zikir saja sudah bisa menghapuskan dosa kita? Kalau bisa apakah zikir itu kita lakukan berulang-ulang?
Ny. Wida Susetyo
Jawab:
Karena pertanyaan Anda sudah pernah saya singgung dalam jawaban yang lain(lihat Fiqih Kesehaian 12, red), maka saya tidak akan panjang lebar menjawab.
Zikir itu menyebut dan mengingat Allah. Anda bisa beristighfar (membaca zikir: astaghfirullah), misalnya. Namun dalam tobat, yang terpenting adalah rasa penyesalan kita terhadap dosa yang telah terlanjur kita lakukan dan memohon ampunan kepada Allah. Meskipun kita mengulang-ulang zikir, tapi dalam hati kita tidak menyesali dosa yang telah kita perbuat dan tidak memohon ampun kepada Allah, ya namanya belum bertobat.
Wallaahu A'lam.
Tanya:
Pak Mus, saya mempunyai persoalan begini:
Bila seseorang telah melakukan kesalahan/dosa besar (syirik) dan kemudian menyadari kesalahannya dengan bertobat (nasuha), diterimakah tobatnya?
Demikian pertanyaan saya Pak Mus.
Aji Setiono
Kecamatan Kajen, Pekalongan
Jawab:
Memang dosa paling besar, menurut Islam, adalah dosa syirik atau mempersekutukan Tuhan. Sampai-sampai Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa saj ayang Ia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik), maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar." (QS 4. An-Nisaa: 48)
Bagi mereka yang hanya selintas membaca, mungkin ayat ini akan dipahaminya sebagai "vonis" bahwa dosa syirik adalah dosa yang tak terampuni. Bahkan saya pernah benar-benar menjumpai orang yang menerangkan ayat ini dengan tafsiran demikian.
Padahal, --wallaahu A'lam-- tidak ada itu dosa yang tidak terampuni oleh Allah.
Ayat tersebut hanya menjelaskan betapa besarnya dosa syirik dibanding dosa-dosa yang lain. Tapi tidak menerangkan --seperti mungkin dipahami banyak orang-- bahwa dosa syirik adalah dosa yang tak bisa diampuni.
Ayat ini haruslah dipahami --wallaahu A'lam-- begini: Allah tidak akan mengampuni dosa syirik yang tidak ditobati (dimintakan ampun) sampai yang bersangkutan mati dan Dia bisa saja mengampuni dosa-dosa selain syirik itu dengan tanpa ditobati bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Dengan kata lain, ayat tersebut --sekali lagi wallaahu A'lam-- berbicara tentang dosa-dosa yang tidak terobati sampai yang bersangkutan meninggal.
Jadi, syirik pub bisa diampuni Allah asalkan orang yang berdosa syirik itu benar-benar menyesali dosanya itu dan mohon ampunan Allah. Benar-benar bertobat (seperti kata Anda: tubatan nashuuha).
Kalau syirik tidak bisa diampuni, lalu bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa para shahabat Nabi yang mulia-mulia itu banyak diantara mereka yang tadinya pernah syirik, menyembah berhala? (Baca juga jawaban saya atas pertanyaan K. Ronggo S, berjudul "Cara Menebus Dosa Sebelum masuk Islam"! (Fiqih Keseharian 12, red).


0 comments:

Posting Komentar

.comment-content a {display: none;}