
Kata ini seolah menjadi akrab sekali, menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari.
Bahkan menjadi ajang perdebatan, menjadi "status" kehormatan
menjadi sebuah level, tingkat, derajad, maqom atau level "kesucian"
menjadi sebuah claim satu kelompok dan menyalahkan kelompok lain
menjadi sebuah dogma untuk menyalahkan
seolah justru menjadi asing, makhluk dari negeri antah berantah
makhluk apa itu khusuk? menjadi sesuatu di awang-awang?
di langit tinggi tak terjangkau?
apakah benar?
apakah Allah akan mengajarkan sesuatu yang sulit?
Tentu tidak!. Rasanya tidak mungkin! Rasanya konyol kalau begitu!.
Memang khusuk itu ada banyak sisinya.
sebagaimana kita melihat seekor gajah
dari sudut mana saja kita memandang, akan melihat beda
sebagaimana kita mendefinisikan padi,
ada berbagai macam jenis padi, namun ketika membicarakan
ternyata tengah menceritakan hal yang sama, yaitu padi.
pernah ada dua orang berdebat besar hampir terjadi pertengkaran
tentang hakekat atau definisi padi, yaitu padi Solok
mereka merasa benar pada pendapatnya sendiri-sendiri
Yang satu orang berasal dari Solok mengerti secara turun temurun padi Solok
namun sayangnya dia tidak pernah menanam padi tersebut
dan satu orang dari Jawa yang menanam padi Solok tersebut
mereka masing-masing merasa benar dalam definisi mereka
sehingga tidak ada yang mau mengalah, menimbulkan keributan
kebenaran dalam "persepsi" mereka, berdasarkan "kesadaran persepsinya"
hanya ketika dihadapkan pada jenis padi lain yang mereka berdua
tidak pernah tahu, mereka sampai pada kesimpulan yang sama
berdasarkan kesadaran "persepsi lama" mereka atas padi Solok
ternyata tidak berbeda, sampai pada pemahaman yang sama tentang padi
mendapatkan pemahaman baru, tentang hakekat padi yang lebih umum
kesimpulannya, adalah harus berpijak dari rasa tidak tahu
atau rasa tidak merasa benar, tidak pada kebenarannya sendiri
sama persis ketika membicarakan, berdebat, atau menyalahkan shalat khusuk
sama dengan membicarakan padi, karena yang dibahas belum tentu jenis padi yang sama
berdebat tentang sesuatu yang beda, karena dalam membandingkan
dua hal yang beda dan dipaksakan dicari persamaannya dari satu sisi perbedaannya
membahas khusuk dengan definisi yang berbeda, tidak akan pernah bertemu
membahas shalat khusuk berdasarkan teori dan pengalaman tentu berbeda
berdasarkan dogma dan pemaksaan dalil tentu akan berbeda
hanya dengan sama-sama menyadari ke satu kesadaran yang lebih tinggi
akan sampai ke pemahaman yang sama
ketika tidak bertemu pada kesadaran yang sama
perdebatan tidak akan pernah berhenti
itu bukan sebuah diskui tapi adu urat, adu otot, dan mau menang sendiri.
Maka khusuk menjadi sebuah makhluk asing seperti halnya makhluk halus
dipercaya ada namun tidak pernah bisa ditemui, diperdebatkan
namun tidak pernah nampak nyata dan hadir di antara kita
dicari namun tidak pernah bertemu:
Kalau kita menggunakan kesadaran yang lebih tinggi, di atas kesadaran persepsi sendiri.
maka khusuk menjadi mudah, sederhana, simple.
Coba lihat sisi-sisi sholat khusuk, maka kita semua pasti mudah melakukan salah satunya
atau bahkan mudah melakukan ke semua hal tersebut:
1. Serius/sungguh-sungguh: Khusuk adalah melakukan sesuatu secara serius atau sungguh-sungguh. Kita yakin semua orang pasti tahu apa itu serius atau sungguh-sungguh dan pasti bisa melakukan ini
2. Sadar: Khusuk dalam sholat adalah menghadirkan hati kita atau sadar sedang melakukan sholat. Setiap orang yang sadar pasti mampu menghadirkan kesadaran. Yaitu sadar sedang menyembah Allah
3. Faham: Khusuk adalah memahami apa yang sedang dilakukan. Dalam sholat maka mengerti gerakan sholat, memahami maksud dan makna gerakan sholat serta bacaan sholat.
4. Hormat: Khusuk adalah suatu sikap menghormat pada saat sholat yang menghormati Dzat yang disembah, seperti kita menghormati Penguasa atau seseorang yang paling dihormati.
5. Takut: Khusuk dengan adanya rasa takut, atas perbuatan salah atau dosa kita yang pernah dilakukan. Sebagaimana kita melakukan tindakan salah yang takut diketahui seseorang atau polisi. Takut untuk melakukan dosa. Rasa takut seperti takutnya di hukum di dunia kalau melakukan kriminal.
6. Harap: Khusuk dengan adanya harapan atas ampunan, rahmat dan ridho Allah. Sebagaimana harapan kita di dunia kalau bekerja akan mendapatkan hasil atau gaji. Harapan akan berhasil dan sebagainya.
7. Malu: Khusuk yaitu dengan hadirnya rasa malu. Malu kalau berbuat salah, malu belum mampu berbuat kebaikan. Mampu belum bisa melakukan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Kalau kita berdiskusi sebagai sebuah hal yang normal, yang wajar, secara manusia. Maka setiap sisi dari khusuk ini mampu dan mudah dilakukan oleh setiap orang. Dan tentu saja bukan menjadi ukuran atau kriteria keberhasilan atau kesucian seseorang. Karena rujukan atau referensi atas keberhasilan hanyalah Allah yang tahu.
Ada satu hal yang nyata dan real atas keberhasilan khusuk ini yaitu: TARGET PRIBADI atau TOLOK UKUR keberhasilan pribadi. Tentukan target dan tolok ukur sehingga kita telah puas dengan apa yang sudah kita lakukan. Kalau kita puas dengan hasil saat ini maka berarti kita telah "khusuk". Mudah dan simple, sangat mudah. Jangan melihat, membandingkan dengan orang lain, karena diri sendiri yang tahu dan punya target serta tolok ukur "khusuk" ini. Jangan fikirkan pendapat atau pandangan orang lain.
Tentu saja target ini harus selalu berubah lebih baik dari sebelumnya.
Khusuk adalah masalah pribadi, masalah privacy, hanya kita yang menentukan. Tentu saja ada kriteria umum yang dijelaskan oleh Allah, yaitu KETENANGAN JIWA.
Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya… (QS.Al-Mu'minun: 1-2)
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati (khusyu') mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Al-Hadid: 16)
Dalam dua ayat di atas, Allah Swt menyampaikan bahwa khusyu' telah menjadi sebuah kewajiban ketika berdzikir kepadaNya, baik dalam sholat maupun lainnya.
Jadi khusuk bukanlah sebuah "tempelan stiker di jidat kita" atas status kesucian kita. Tapi kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku beriman.
Khusuk tidak menjadi sesuatu yang asing atau aneh atau di awang-awang. Khusuk adalah real, nyata, mudah, simple, sederhana. Tidak mengada-ada.
Tentukan target atau tolok ukur khusuk anda, maka anda sudah mencapai khusuk, mudah semudah itu. Misalnya pakai sisi pertama saja, yaitu serius atau sungguh-sungguh. Kalau sudah tercapai berarti sudah khusuk.
Lalu tingkatkan target kita, misalnya untuk sisi sadar, lalu faham, dan selanjutnya menginjak atau meningkat ke sisi lainnya.
Maka ketika ada orang bertanya, sudahkah anda khusuk:
Kita bisa menjawab tegas: "sudah dalam batas kemampuan kita saat ini".
Yakinkan diri anda: Hal ini adalah hal termudah dalam hidup anda.
Melakukan khusuk adalah hal termudah kalau anda mau.Tentu saja.
Sesuai dengan kondisi kemampuan, keterbatasan dan kesangupan anda saat ini.
Andapun sudah khusuk kalau itu tercapai.
sholatsempurna.com

0 comments:
Posting Komentar